This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 18 Juni 2014

TAHAP-TAHAP TUMBUH KEMBANG



 















Adapun tahap-tahap tumbuh kembang manusia adalah sebagai berikut:
1. Neonatus (lahir – 28 hari)
2. Bayi (1 bulan – 1 tahun) termasuk golongan
3. Toddler (1-3 tahun) anak usia dini
4. Pra sekolah (3-6 tahun)
5. Usia sekolah (6-12 tahun)
6. Remaja (12-18/20 tahun)
7. Dewasa muda (20-40 tahun)
8. Dewasa menengah (40-65 tahun)
9. Dewasa tua
Keempat tahapan perkembangan anak usia dini tersebut (neonates sampai
pra sekolah) dapat diuraikan menjadi:
Neonatus (lahir-28 hari)
Pada tahap ini, perkembangan neonatus sangat memungkinkan untuk
dikembangkan sesuai keinginan. Implikasinya adalah membantu orang tua untuk
mengidentifikasi dan menemukan kebutuhan yang tidak ditemukan.

Bayi (1 bulan-1 tahun)
Pada tahap ini, tumbuh kembang terbagi menjadi 4 tahap perkembangan,
yaitu bayi usia 0-3 bulan, 3-6 bulan, 6-9 bulan, dan 9-12 bulan. Uraiannya adalah:

a. Bayi usia 0-3 bulan
1) Mengangkat kepala
2) Mengikuti obyek dengan mata
3) Melihat dengan tersenyum
4) Bereaksi terhadap suara atau bunyi
5) Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan
kontak
6) Menahan barang yang dipegangnya
7) Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh

b. Bayi usia 3-6 bulan
1) Mengangkat kepala sampai 90°
2) Mengangkat dada dengan bertopang tangan
3) Belajar meraih benda-benda yang ada dalam jangkauannya atau diluar
jangkauannya
4) Menaruh benda-benda di mulutnya
5) Berusaha memperluas lapang pandang
6) Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain
7) Mulai berusaha mencari benda-benda yang hilang

c. Bayi usia 6-9 bulan
1) Duduk tanpa dibantu
2) Tengkurap dan berbalik sendiri
3) Merangkak meraih benda atau mendekati seseorang
4) Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain
5) Memegang benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
6) Bergembira dengan melempar benda-benda
7) Mengeluarkan kata-kata tanpa arti
8) Mengenal muka anggota keluarga dan takut pada orang lain
9) Mulai berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan

d. Bayi usia 9-12 bulan
1) Berdiri sendiri tanpa dibantu
2) Berjalan dengan dituntun
3) Menirukan suara
4) Mengulang bunyi yang didengarnya
5) Belajar menyatakan satu atau dua kata
6) Mengerti perintah sederhana atau larangan
7) Minat yang besar dalam mengeksplorasi sekitarnya
8) Ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda-benda ke mulutnya
9) Berpartisipasi dalam permainan
Toddler (1-3 tahun)
Pada usia ini terjadi peningkatan kemampuan psikososial dan
perkembangan motorik, baik motorik halus maupun kasar. Tahap ini terbagi
menjadi 3 tahap perkembangan, yaitu:

a. Usia 12-18 bulan
1) Mulai mampu berjalan dan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah
2) Menyusun 2 atau 3 kotak
3) Dapat mengatakan 5-10 kata
4) Memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing

b. Usia 18-24 bulan
1) Mampu naik turun tangga
2) Menyusun 6 kotak
3) Menunjuk mata dan hidungnya
4) Menyusun dua kata
5) Belajar makan sendiri
6) Menggambar garis di kertas atau pasir
7) Mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil
8) Menaruh minat kepada apa yang dikerjakan oleh orang yang lebih besar
9) Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain-main dengan mereka

c. Usia 2-3 tahun
1) Anak belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki
2) Membuat jembatan dengan 3 kotak
3) Mampu menyusun kalimat
4) Mempergunakan kata-kata saya
5) Bertanya
6) Mengerti kata-kata yang ditujukan kepadanya
7) Menggambar lingkaran
8) Bermain dengan anak lain
9) Menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya
Pra sekolah (3-6 tahun)
Pada masa pra sekolah pertumbuhan fisik lebih lambat. Ketika sedang
bermain anak mencoba pengalaman baru dan peran sosial. Tahap ini terbagi
menjadi 3 tahapan, yaitu:

a. Anak usia 3-4 tahun
1) Berjalan-jalan sendiri mengunjungi tetangga
2) Berjalan pada jari kaki
3) Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri
4) Menggambar garis silang
5) Menggambar orang (hanya kepala dan badan)
6) Mengenal 2 atau 3 warna
7) Bicara dengan baik
8) Bertanya bagaimana anak dilahirkan
9) Mendengarkan cerita-cerita
10) Bermain dengan anak lain
11) Menunjukkan rasa sayang kepada saudara saudaranya
12) Dapat melaksanakan tugas-tugas sederhana

b. Anak usia 4-5 tahun
1) Mampu melompat dan menari
2) Menggambar orang terdiri dari kepala, lengan dan badan
3) Dapat menghitung jari-jarinya
4) Mendengar dan mengulang hal-hal penting dan cerita
5) Minat kepada kata baru dan artinya
6) Memprotes bila dilarang apa yang diinginkannya
7) Membedakan besar dan kecil
8) Menaruh minat kepada aktivitas orang dewasa

c. Anak usia 6 tahun
1) Ketangkasan meningkat
2) Melompat tali
3) Bermain sepeda
4) Menguraikan objek-objek dengan gambar
5) Mengetahui kanan dan kiri
6) Memperlihatkan tempertantrum
7) Mungkin menentang dan tidak sopan

KONSEP KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN



KONSEP KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN
A.    PENGERTIAN
              Pengertian aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana manusia memerlukannya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Kemampuan seseorang untuk melakukan suatu aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja merupakan salah satu dari tanda kesehatan individu tersebut dimana kemampuan aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan muskuloskeletal. Aktivitas fisik yang kurang memadai dapat menyebabkan berbagai gangguan pada sistem musculoskeletal seperti atrofi otot, sendi menjadi kaku dan juga menyebabkan ketidakefektifan fungsi organ internal lainnya.
              Latihan merupakan suatu gerakan tubuh secara aktif yang dibutuhkkan untuk menjaga kinerja otot dan mempertahankan postur tubuh. Latihan dapat memelihara pergerakan dan fungsi sendi sehingga kondisinya dapat setara dengan kekuatan dan fleksibilitas otot. Selain itu, latihan fisik  dapat membuat fungsi gastrointestinal dapat bekerja lebih optimal dengan meningkatkan selera makan orang tersebut dan melancarkan eliminasinya karena apabila seseorang tidak dapat melakukan aktifitas fisik secara adekuat maka hal tersebut dapat membuat otot abdomen menjadi lemah sehinga fungsi eliminasinya kuang efektif.
              Aktivitas sehari-hari (ADL)  merupakan salah satu bentuk latihan aktif pada seseorang termasuk didalamnya adalah makan/minum, mandi, toileting, berpakaian, mobilisasi tempat tidur, berpindah dan ambulasi/ROM. Pemenuhan terhadap ADL ini dapat meningkatkan harga diri serta gambaran diri pada seseorang, selain itu ADL merupakan aktifitas dasar yang dapat mencegah individu tersebut dari suatu penyakit sehingga tindakan yang menyangkut pemenuhan dalam mendukung pemenuhan ADL pada klien dengan intoleransi aktifitas harus diprioritaskan.
Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan  guna mempertahankan kesehatannya. Kehilangan kemampuan untuk bergerak menyebabkan ketergantungan dan ini membutuhkan tindakan keperawatan. Mobilisasi diperlukan untuk meningkatkan kemandirian diri, meningkatkan kesehatan dan memperlambat proses penyakit – khusunya proses degeneratif dan untuk aktualisasi diri (harga diri dan citra tubuh). Imobilitas atau imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan misalnya mengalami trauma tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas dan sebagainya.

B.     NILAI-NILAI NORMAL
Kategori tingkat kemampuan aktivitas adalah sebagai berikut :
Tingkat aktivitas / mobilitas
Kategori
Tingkat 0
Tingkat 1
Tingkat 2

Tingkat 3

Tingkat 4
Mampu merawat diri sendiri secara penuh
Memerlukan penggunaan alat
Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain
Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan peralatan
Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan

Keadaan postur yang seimbang sesuai dengan garis sumbu dengan sentralnya adalah gravitasi. Kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan seperti kemampuan mangangkat beban, maksimal 57 %.

C.    HAL-HAL YANG PERLU DIKAJI PADA KLIEN YANG MENGALAMI GANGGUAN KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN
1.  Tingkat aktivitas sehari-hari
-          Pola aktivitas sehari-hari
-          Jenis, frekuensi dan lamanya latihan fisik
2.  Tingkat kelelahan
-          Aktivitas yang membuat lelah
-          Riwayat sesak napas
3.  Gangguan pergerakan
-          Penyebab gangguan pergerakan
-          Tanda dan gejala
-          Efek dari gangguan pergerakan
4.  Pemeriksaan fisik
-          Tingkat kesadaran
-          Postur/bentuk tubuh (Skoliosis, Kiposis, Lordosis, Cara berjalan)
-          Ekstremitas (Kelemahan, Gangguan sensorik, Tonus otot, Atropi, Tremor, Gerakan tak terkendali, Kekuatan otot, Kemampuan jalan, Kemampuan duduk, Kemampuan berdiri, Nyeri sendi, Kekakuan sendi)


II.            DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.       Gangguan mobilitas fisik b.d. immobilisasi dan gangguan neuromuscular
b.      Intoleransi aktivitas b.d nyeri dan pembatasan pergerakan
c.       Defisit perawatan diri b.d kelemahan



III.         PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1
Gangguan mobilitas fisik b.d. immobilisasi dan gangguan neuromuskular

Definisi :
Keterbatasan dalam kebebasan untuk pergerakan fisik tertentu pada bagian tubuh atau satu atau lebih ekstremitas
Batasan karakteristik :
-          Postur tubuh yang tidak stabil selama melakukan kegiatan rutin harian
-          Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar
-          Keterbatasan ROM
-          Usaha kuat untuk perubahan gerak
NOC :
Mobility Level
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 hari dapat teridentifikasi Mobility level, dengan kriteria hasil :
-          aktifitas fisik meningkat
-          Melaporkan perasaan peningkatan kekuatan, kemampuan dalam bergerak
-          Klien bisa melakukan aktifitas walaupun dengan dibantu
-          Memperagakan penggunaan alat Bantu untuk mobilisasi (walker)
NIC :
Exercise therapy : ambulation
-          Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan
-          Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi
-          Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
-          Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
-          Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.
-          Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
-          Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan
2
Intoleransi aktivitas b.d nyeri dan pembatasan pergerakan

Definisi : Ketidakcukupan energi secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.

Batasan karakteristik :
         melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
         Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
         Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
         Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.

Faktor factor yang berhubungan :
         Tirah Baring atau imobilisasi
         Kelemahan menyeluruh
         Ketidakseimbangan antara suplei oksigen dengan kebutuhan
         Gaya hidup yang dipertahankan.
NOC :
         Energy conservation
         Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
         Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
         Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
NIC :
Energy Management
         Observasi adanya pembatasan ps dalam melakukan aktivitas
         Dorong ps untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
         Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
         Monitor nutrisi  dan sumber energi yang adekuat
         Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
         Monitor respon kardivaskuler  terhadap aktivitas
         Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
         Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat.
         Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
         Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
         Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
         Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
        
Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
         Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
         Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
         Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
         Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
         Monitor respon fisik, emosi, social dan spiritual
3
Defisit perawatan diri b.d kelemahan

Batsan karakteristik:
Pasien tidak mampu mandi dan toileting secara mandiri
NOC :
Self Care:ADL’s
Kriteria Hasil :
-       Klien terbebas dari bau badan
-       Menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan untuk melakukan ADLs
-       Dapat melakukan ADLS dengan bantuan
NIC :
Self Care assistance : ADLs
-          Monitor kemampuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
-          Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.
-          Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-care.
-          Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki.
-          Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.
-          Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.
-          Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.
-          Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari. 


IV.         DAFTAR PUSTAKA
Towarto, Wartonal. 2007. Kebutuhan Dasar & Prose Keperawatan  Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.
Alimul H, A Aziz. 2006. Pengantar KDM Aplikasi Konsep & Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Elis J.R, Nowlis E.A. 1985. Nursing a Human Needs Approach Third Edition. Houghton Mefflin Company: Boston.
Nanda. 2005. Nursing Diagnosis: Definition & Classification, 2005-2006, North American Nursing Diagnosis Association, Philadelphia
Nursing Intervention Classification (NIC)
Nursing Outcome Classificatin (NOC)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More